SEMANTIK

Pengertian
Bagian tata bahasa atau linguistik yang mempelajari artii kata ialah semantik. Sedangkan arti atau makna ialah hubungan abstrak antara kata sebagai simbol dengan objek atau konsep yang ditunjuk atau diwakili.
Ada beberapa arti dan hubungan arti kata. Di antaranya ialah:

1. Arti leksikal,
yaitu arti kata (leksem) sebagai satuan yang bebas. Arti ini umumnya dianggap sejajar dengan arti denotatif. Biasa pula dianggap sebagai arti menurut kamus (leksikon).
2. Arti gramatikal,
ialah arti yang timbul setelah suatu bentuk ujaran mengalami proses ketatabahasaan. Arti ini juga disebut anti struktural. Misainya prefiks pe- lazim dianggap rnempunyai arti gramatikal 'alat untuk melakukan sesuatu, atau pelaku perbuatan tertentu'.
3. Arti denotatif,
disebut juga arti harfiah, arti lugas, arti sebenarnya, anti tersurat, yaitu arti yang didasarkan penunjukan secara langsung pada objek atau konsep yang dimaksud. Kata bunga dalam kalimat berikut mengandung arti denotatif .
Bunga melati harum baunya.
Untuk ulang tahunnya, saya mengirimi bunga waktu itu.
4. Arti konotatif,
sama dengan arti kias yaitu arti tersirat, yaitu arti yang didasarkan pada penunjukkan secara tidak langsung. Kata bunga dalam kalimat berikut digunakan menurut arti konotatifnya.
Yuniar adalah bunga di kelas itu.
Generasii muda adalah bunga bangsa yang harus dibina.
5. Arti idomatik,
arti yang timbul karena dua kata bersenyawa membentuk satu kesatuan dengan rnakna baru, dan makna barunya itu tidak dapat ditelusuri dan unsur pembentuknya.  Contoh:
Sehubungan dengan kasus itu, dia akan dihadapkan ke meja hijau.
Jalan itu terlalu banyak polisi tidurnya.
Meja hijau = pengadilan, dan polisi tidur = tanggul penghambat, agar pengendara rnengurangi kecepatannya.

Hubungan Arti kata
Sebuah kata mempunyai hubungan arti dengan kata yang lain. Ada kata yang artinya sama dengan kata yang lain, artinya berlawanan dengan kata yang lain, atau artinya dicakup oleh kata yang lain. Berikut ini adalah macarn-macam hubungan arti.
(1) Sinonim,
ialah dua kata atau lebih yang mempunyai arti sama atau hampir sama. Misalnya :
·  kitab bersinonim dengan buku,
·  orang dengan manusia,
·  gadungan dengan palsu,
·  evakuasi dengan ungsi,
·  lestari dengan abadi,
·  dampak dengan pengaruh,
·  kendala dengan hambatan,
·  efektif dengan hasil guna,
·  efisen dengan daya guna,
·  devaluasi dengan penurunan nilai.
Sinonim yang hampir sama menyebabkan nuansa makna (perbedaan yang sangat halus).
Misalnya : bulat-bundar, menyongsong-menyambut.
Sinonirn yang hampir sama juga menyebabkan nilai rasa yang berbeda Misalnya : karyawan, pegawai, buruh.
(2) Antonim,
yaitu dua kata atau lebih yang artinya berlawanan. Misalnya :
  • Wanita dengan lelaki,
  • hidup dengan mati,
  • lebar dengan sempit,
  • efisien dengan boros,
  • dll.
(3) Hiponim,
ialah kata-kata yang artinya dicakup oleh arti kata yang lain.
Misalnya :
arti kata melati, mawar, famboyan, anggrek dicakup oleh arti kata bunga.

Di sini melati adalah hiponim dari bunga, sedang bunga adalah hiperonim dari kata melati.

Jadi hiperonim adalah kata yang mencakup kata yang lain. Kohiponim adalah hubungan yang selajar, misalnya apel dengan anggur, kucing dengan harimau, merah dengan putih.


(4) Polisemi,
ialah kata-kata yang artinya berkaitan. Misalnya: kaki orang, kaki gunung, kaki langit, kaki bukit.

Hubungan Bentuk Kata
Dalam realitas bahasa dapat ditemukan kesamaan bentuk antara kata yang satu dengan kata yang lain, Kesamaan itu dapat berupa kesamaan tulisan, kesamaan ucapan, atau kesamaan ucapan dan tulisan sekaligus.
  1. Homonim ialah dua kata atau lebih yang tulisan dan bunyinya sama sedang artinya berbeda. Misalnya bisa 'dapat', bisa 'racun', beruang yang berarti 'mempunyai uang', 'mempunyai ruang' dan yang mengandung makna 'nama binatang', serta kopi yang berarti 'sejenis minuman' dan yang bermakna 'salinan'.
  2. Homofon adalah sejenis homonim, tetapi hanya bunyinya saja yang sama, sedang tulisan dan artinya berbeda. Contoh: massa dengan masa, tang dengan tank, bang dengan bank, sangsi dengan sanksi, keranjang dengan ke ranjang, dll. Seperti kita lihat, homofon yang sama hanya bunyinya.
  3. Homograf, juga merupakan homonim, namun yang sama hanya tulisannya sedang bunyi dan arti berbeda. Misalnya, serang yang berarti 'menyerbu' dan serang yang nama sebuah kota; teras yang bermakna bagian depan rumah' dan teras yang berarti inti.
Perubahan Arti KataPerubahan Arti Kata
Arti suatu kata dapat berubah oleh beberapa penyebab, antara lain: perubahan nilai rasa, perubahan cakupan makna, perubahan tanggapan antara dua indera, dan perubahan makna karena persamaan sifat.
  1. Peyorasi,
    ialah perubahan nilai rasa menjadi lebih rendah dari yang sebelumnya. Arti kata dianggap mengalami peyorasi jika nilainya merosot, misalnya, dari yang semula bernilai hormat, menjadi hina, disukai menjadi tidak atau kurang disukai, dll. Misalnya, kata abang, perempuan, bini, gerombolam, betina, emak eksekusi, dll.
Dahulu kata abang mempunyai arti yang sejajar dengan kata kakak. Karena, terlalu sering digunakan untuk menunjuk orang-orang dari lapisan sosial bawah, seperti abang becak, abang bakso, dll, kemudian orang dari lapisan sosial tertentu tidak suka jika disapa dengan kata abang. Dengan demikian nilai kata tersebut menjadi merosot.
  1. Ameliorasi
    ialah perubahan nilai rasa menjadi lebih tinggi, lebih hormat, dan lebih disukai. Misalnya perubahan arti kata istri. wanita, suami, kakak, putra, dll.
  2. Perluasan arti,
    adalah perubahan arti kata yang semula cakupan maknanya lebih sempit dari yang sekarang. Misalnya perubahan arti pada kata saudara, bapak, ibu, berlayar, kereta api, dll.
  3. Penyempitan arti.
    yaitu perubahann arti dari yang semula cakupan maknanya luas kini menjadi lebih sempit. Misalnya perubahan arti pada, kata Ulama, pendeta, sarjana, pena, lafal, golongan, dan perkosa.
  4. Sinestesia,
    yaitu perubahan arti karena adanya pertukaran tanggapan dua indera yang berbeda, misalnya kata keras, lembut, manis, dalam ungkapan kata-katanya pedas, suaranya keras, gerak tubuhnya lembut, wajahnya manis. Kata manis yang seharusnya berhubungan dengan indra pengecap di sini diterapkan pada indra penglihatan atau visual.
  5. Asosiasi
    ialah perubahan arti karena adanya persamaan sifat atau hubungan makna secara tidak langsung. Misalnya kata amplop dihubungkan dengan sesuatu yang dimasukkan di dalamnya, yang biasanya berupa uang untuk melicinkan persoalan. Misalnya, dalam ungkapan berikut: agar persoalan itu lekas beres, beri saja dia amplop. Begitu juga kata catut yang dihubungkan dengan arti kata korupsi.
Catatan :
Yang dimaksud dengan nilai rasa suku kata ialah kesan baik buruk, positif negatif kata tersebut. Misalnya kata tolol yang mengandung nilai rasa penghinaan, dan angka tiga belas dkanggap mempunym nilai rasa kesialan.
Bagikan artikel ini :

Poskan Komentar

 
Didesain oleh : Widi Eko Cahyanto
Copyright © 2013. BAHASA INDONESIAKU - All Rights Reserved
Bahasa menunjukkan kepribadianmu.
Proudly powered by Blogger